DISUSUN OLEH :

1) SHIFA DINI FITRIANI        230210080004

2) INDRIANI                           230210080061

EKOLOGI LAUT TROPIS

Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, ahli biologi Jerman pada tahun 1869.  Kata ”ekologi” berasal dari  bahasa Yunani, yaitu Oikos yang berarti  ”rumah” atau ”tempat tinggal” dan logos yang berarti ”ilmu” atau ”studi”.  Jadi, ekologi  ”organisme di tempat hidupnya” dengan mengutamakan pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.

Laut merupakan sekumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra yang menghubungkan bagian bumi. Demikian Ekologi Laut Tropis adalah suatu hubungan antara makhluk hidup dengan laut tropis sebagai lingkungannya dan dipelajari bagaimana cara untuk mencapai keseimbangan antara keduanya.

Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Dalam interaksi organisme dengan lingkungannya, adanya prinsip-prinsip ekologi yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan faktor biotik.  Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

INDIVIDU

Individu merupakan organisme tunggal. Dalam mempertahankan hidup, setiap makhluk hidup dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis, seperti :

  • mendapatkan makanan,
  • mempertahankan diri terhadap musuh alaminya,
  • memelihara anaknya,
  • mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas,
  • merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya dan
  • bereproduksi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Adapula organisme yang tidak mampu beradaptatasi (maladaptasi). Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu:

  • Adaptasi Morfologi, seperti : ikan hiu memiliki gigi yang tajam karena termasuk hewan karnivora.
  • Adaptasi Fisiologi, seperti : Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat
  • Adaptasi Tingkah Laku, seperti : ikan paus yang sesekali menyembul ke permukaan untuk mengambil udara dan Migrasi Ikan salem di Amerika Utara yang hidup di laut melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai. Setiap tahun, ikan salem dewasa berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai.

POPULASI

Populasi merupakan kumpulan individu yang sejenis yang tinggal di habitat tertentu dan waktu tertentu. Makhluk hidup di perairan beradaptasi terhadap suatu lingkungan dengan pengembangan dan pengelolaan diversitas genetikanya melalui reproduksi dalam populasi. Dinamika populasi ini dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu kelahiran, kematian, dan perpindahan.

KOMUNITAS

Kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain disebut komunitas. Komunitas memiliki keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya. Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem.

Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi ekologis atau suksesi. Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

EKOSISTEM

Interaksi antara komponen  komponen penyusunnya  sehingga terbentuk suatu  satuan fungsional dan di  dalamnya terdapat makhluk  autotrof dan heterototrof terdapat dalam suatu ekosistem. Setiap ekosistem memiliki komponen – komponen yang masing-masing mempunyai peranan dan mereka saling terkait dalam melaksanakan proses-proses dalam ekosistem. Proses-proses dalam ekosistem meliputi siklus energi, rantai makanan, pola keanekaragaman, siklus materi, perkembangan, dan pengendalian. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).

BIOSFER

Tingkatan organisasi biologi terbesar yang mencakup semua kehidupan di bumi dan adanya interaksi antar lingkungan fisik secara keseluruhan dinamakan biosfer.

Pada dasarnya, lingkungan di sekeliling populasi suatu spesies yang mempengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies tersebut. Setiap makhluk hidup mempunyai tempat tinggal untuk hidup dinamakan habitat dalam batas tertentu harus dalam batas tertentu sesuai dengan persyaratan hidup makhluk yang menghuninya misalnya padang lamun hidup pada kedalaman ± 4 meter.

Dalam suatu populasi terjadi evolusi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih langka. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.

Terdapat mekanisme utama yang mendorong evolusi yaitu seleksi alam yang merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi  dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang.

Di dalam interaksi makhluk hidup adanya simbiosis. Adapun bentuk simbiosis yakni:

  • Simbiosis parasitisme di mana pihak yang satu mendapat keuntungan dan merugikan pihak lainnya.
  • Simbiosis mutualisme adalah hubungan sesama makhluk hidup yang saling menguntungkan kedua pihak. Contohnya: Ikan Remora dan Ikan hiu
  • Simbiosis komensalisme di mana pihak yang satu mendapat keuntungan tapi pihak lainnya tidak dirugikan dan tidak diuntungkan. Contoh: ikan badut dengan anemon laut

NICHE

RELUNG (NICHE)

Dalam ekogi, sebuah Relung (Niche) adalah sebuah istilah yang menggambarkan posisi relasional dari sebuah populasi melalui ekosistem satu sama lain. Relung ekologis menggambarkan bagaimana sebuah organisme atau populasi menanggapi adanya pesaing (misalnya, ketika ada predator, parasit dan patogen yang langka) dan bagaimana hal itu pada gilirannya mengubah faktor-faktor yang sama (misalnya, bertindak sebagai sumber makanan bagi predator, bertingkah laku, bereaksi, dan memangsa konsumen). Dalam suatu ekologi, setiap jenis tumbuhan akan mempunyai relung ekologi sebagai landasan untuk memahami fungsi dari suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat yang sama. Peranan niche dalam habitatnya, dalam jenjang makanannya yang berhubungan dengan pH tanah atau iklim. Dalam ekosistem, berbagai jenis makhluk hidup lainnya dalam habitat dan relung ekologi masing-masing hidup bersama dan berinteraksi.

Di dalam ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia.

Rantai makanan dalam ekosistem laut

Salah satu cara suatu komunitas berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan yang disebut rantai makanan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan. Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya.

Setiap ekosistem memiliki suatu tingkat trofik dari hubungan makan-memakan. Tingkat trofik yang secara mendasar dapat mendukung yang lainnya dalam suatu ekosistem terdiri dari organisme autotrof, atau produsen primer ekosistem tersebut. Tumbuhan yang menghasilkan gula sebagai bahan bakar untuk respirasi seluler dan sebagai bahan pembangun untuk pertumbuhan lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02 dari udara. Organisme heterotrof yang secara langsung atau secara tidak langsung bergantung pada hasil fotosintetik produsen primer. Fitoplankton (alga dan bakteri) merupakan produsen primer dalam zona limnetik dan dalam lautan terbuka, Akan tetapi, pada zona afotik di laut dalam, sebagian besar kehidupan bergantung pada produksi fotosintetik di dalam zona fotik; energi dan nutrien turun ke bawah dari atas dalam bentuk plankton dan detritus lainnya.

Herbivora, yang memakan tumbuhan alga dan fitoplankton adalah konsumen primer. Dalam ekosistem akuatik, fitoplankton sebagian besar dikonsumsi oleh zooplankton, yang meliputi protista heterotrof, berbagai invertebrata kecil (khususnya krustasea dan di lautan tahapan larva dari banyak spesies yang hidup dalam bentos sebagai organisme dewasa), dan beberapa ikan.

Tingkat trofik berikutnya terdiri dari konsumen sekunder : karnivora yang memakan herbivora. Karnivora ini selanjutnya dapat dimakan oleh karnivora lain yang merupakan konsumen tersier, dan beberapa ekosistem bahkan memiliki karnivora dan omnivor dengan tingkat yang lebih tinggi lagi. Dalam habitat akuatik, banyak ikan memakan zooplankton dan selanjutnya ikan tersebut dimakan oleh ikan predator. Pada Laut Tropik: predator tertinggi (tuna, lansetfish,  setuhuk, hiu sedang dan hiu besar), predator lainnya: cumi-cumi, lumba-lumba

Bahan organik yang menyusun organisme hidup dalam suatu ekosistem akhirnya akan didaur ulang (disiklus ulang), diurai (dibusukkan), dan dikembalikan ke lingkungan abiotik dalam bentuk yang dapat digunakan oleh autotrof. Beberapa konsumen, detritivora, mendapatkan energinya dari detritus, yang merupakan bahan organik yang tidak hidup, seperti feses, daun yang gugur, dan bangkai organisme mati, dari semua tingkat trofik. Dengan demikian penguraian itu menghubungkan semua tingkat trofik. Struktur trofik suatu ekosistem menentukan lintasan aliran energi dan siklus kimia.

ALIRAN ENERGI DALAM EKOSISTEM


Semua organisme memerlukan energi untuk aktivitas hidupnya. Sebagian besar produsen primer (tumbuhan berklorofil) menggunakan energi cahaya untuk berfotosintesis yang dapat mensintesis molekul organic yang kaya energi, yang selanjutnya dapat dirombak untuk membuat ATP. Konsumen mendapatkan bahan bakar organiknya melalui jaring-jaring makanan. Tumbuhan dimakan oleh herbivora, dengan demikian energi makanan dari tumbuhan mengalir masuk ke tubuh herbivora. Herbivora dimakan oleh karnivora, sehingga energi makanan dari herbivora masuk ke tubuh karnivora. Dengan demikian, keadaan aktivitas fotosintetik menentukan batas pengeluaran bagi pengaturan energi keseluruhan ekosistem. Aliran energi dapat digambarkan pada bagan berikut ini :

Produktivitas di laut tropis melimpah karena sinar matahari terus menerus sepanjang tahun karena hanya ada dua musim yakni musim hujan dan kemarau, kondisi optimal bagi produksi fitoplankton dan konstant sepanjang tahun. Umumnya terdapat paling besar di perairan dangkal dekat benua dan di sepanjang terumbu karang, di mana cahaya dan nutrien berlimpah.

ALIRAN MATERI DALAM EKOSISTEM

Pada perputaran materi yang terjadi diantara komponen ekosistem, materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi yang berupa unsur unsur terdapat dalam senyawa kimia yang dipelajari antara lain  : siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Secara struktural setiap siklus materi mengalami pertukaran unsur kimia. Siklus materi yang satu dengan yang lain dapat saling terkait atau saling mempengaruhi. Aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi siklus materi. Sebagai contohnya adalah kegiatan pabrik dan mesin-mesin kendaraan bermotor dapat meningkatkan kandungan senyawa-senyawa oksidasi belerang, oksida nitrogen, dan gas CFC di udara. Jadi, hubungan yang paling erat adalah setiap materi di bumi pasti memiliki suatu energi dalam bentuk diam ataupun bergerak.

SIKLUS BIOGEOKIMIA

Dalam suatu ekosistem, materi berupa unsur-unsur penyusun bahan organik didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan batuan (geofisik) sehingga disebut Daur Biogeokimia, karena perputaran nutrien melibatkan komponen biotik dan abiotik suatu ekosistem sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Nutrient dapat masuk ke ekosistem melalui : Pelapukan (Wheathering), Atmospheric Input (pemasukan ke atmosfer), Biological Nitrogen Fixation, dan Immigration. Sedangkan Nutrient dapat keluar dari ekosistem melalui Erosion, Leaching, Intrusi, Gaseous Losses (pembuangan berupa gas), serta Emigration dan Harvesting

Macam-macam Daur Biogeokimia

1) Siklus Karbon


Pada ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air

Karbon adalah bahan penyusun dasar semua senyawa organik. Dalam siklus karbon, proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler. Tumbuhan mendapatkan karbon, dalam bentuk C02 dari atmosfer melalui proses fotosintesis yang nantinya akan digunakan oleh tumbuhan dan hewan untuk berespirasi yang dapat menghasilkan O2. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara. Sejumlah karbon bisa dipindahkan dari siklus tersebut dalam waktu yang lebih lama ketika karbon terakumulasi di dalam kayu dan bahan organik oleh detritivora akhirnya didaur ulang karbon ke atmosfer sebagai C2. Hal ini dapat sebagai kembalinya C02 ke atmosfer.

2) Siklus Nitrogen


Di atmosfer banyak mengandung gas nitrogen, yaitu 80% dari udara. Tumbuhan seperti ganggang atau alga memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02– ), dan ion nitrat (N03– ). Selain itu, terdapat bakteri yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob, dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen. Nitrogen yang diikat dalam bentuk ammonia (NH4). Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.

3) Siklus Fosfor


Siklus fosfor lebih sederhana dibandingkan dengan siklus karbon atau siklus nitrogen. Siklus fosfor tidak meliputi pergerakan melalui atmosfer, karena tidak ada gas yang mengandung fosfor secara signifikan. Selain itu, fosfor hanya ditemukan dalam satu bentuk fosfat (P043-) anorganik (pada air dan tanah) dan yang diserap oleh tumbuhan dan digunakan untuk sintesis organik. Pelapukan bebatuan secara perlahan-lahan menambah fosfat ke dalam tanah.

Setelah produsen menggabungkan fosfor ke dalam molekul biologis, fosfor dipindahkan ke konsumen dalam bentuk organic. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus. Dengan demikian, sebagian besar fosfat bersiklus ulang secara lokal di antara tanah, tumbuhan, dan konsumen atas dasar skala waktu ekologis.

MANGROVE

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis, fisik dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat, feeding ground, nursery ground, spawning ground bagi aneka biota perairan, tempat bersarang berbagai satwa liar terutama burung,sumber plasma nutfah,serta sebagai pengatur iklim mikro. Fungsi fisik hutang mangrove yaitu   mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan gelombang dan angin kencang serta menguraikan/mengolah limbah organic. Fungsi ekonominya antara lain : penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit.

Hutan mangrove meliputi pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen). Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik. Ekosistem mangrove yang terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau.

Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan

Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan (Bengen, 2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk :

1. Adaptasi terhadap kadar kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas : (1) bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora (misalnya: Avecennia spp., Xylocarpus., dan Sonneratia spp.) untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).

2. Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi :

• Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam.

• Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur keseimbangan garam.

• Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.

3. Adaptasi terhadap tanah yang kurang strabil dan adanya pasang surut, dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.

Zonasi Hutan Mangrove

Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh

berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrore di Indonesia :

• Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp. Yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.

• Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp.

• Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp.

• Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.

Hubungan Ekosistem Mangrove dengan Ekosistem Lainnya

Ekosistem utama di daerah pesisir adalah ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Menurut Kaswadji (2001), tidak selalu ketiga ekosistem tersebut dijumpai, namun demikian apabila ketiganya dijumpai maka terdapat keterkaitan antara ketiganya. Masing-masing ekosistem mempunyai fungsi sendirisendiri. Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai sedimen trap sehingga sedimen tersebut tidak mengganggu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat, feeding ground, nursery ground, spawning ground bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang. Di samping hal-hal tersebut di atas, ketiga ekosistem tersebut juga menjadi tempat migrasi atau sekedar berkelana organisme-organisme perairan, dari hutan mangrove ke padang lamun kemudian ke terumbu karang atau sebaliknya .

DAMPAK DARI KEGIATAN MANUSIA TERHADAP EKOSISTEM MANGROVE

  1. Penebangan, berubahnya komposisi tumbuhan
  2. Pengalihan aliran air tawar

Menurunnya tingkat kesuburan hutan mangrove karena pasokan zat- zat hara melalui aliran air tawar berkurang.

  1. Konversi menjadi lahan perikanan

–          Mengancam regenerasi stok-stok ikan dan udang di perairan lepas pantai yang memerlukan hutan (rawa) mangrove sebagai nursery ground larva dan/atau stadium muda ikan dan udang.

  1. Pencemaran minyak akibat terjadinya tumpahan minyak dalam jumlah besar mengakibatkan kematian pohon-pohon mangrove akibat terlapisnya pneumatofora oleh lapisan minyak.
  2. Pembuangan sampah cair dan padat

Penurunan kandungan oksigen terlarut dalah air dan mengakibatkan perembesan bahan-bahan pencemar dalam sampah padat yang kemudian larut dalam air ke perairan di sekitar pembuangan sampah.

PENGELOLAAN SUMBER DAYA WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN SECARA TERPADU

Indonesia negara kepulauan yang memiliki sekitar 17.000 buah pulau, memiliki luas wilayah pesisir dan laut luas (3,1 km2 dan ZEE 2,7 km2). Garis pantai memuat habitat pantai yang sangat bervariasi, 81 km, kedua terpanjang setelah Canada, habitatnya antara lain: terumbu karang, mangrove, lamun, rumput laut dan ikan.  Perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir secara sektoral: oleh satu instansi pemerintah untuk tujuan tertentu misal perikanan, konflik kepentingan. Perencanaan Terpadu: mengkoordinasikan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tataruang.

Ekosistem  Mangrove

Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil).

Bentuk Pengelolaan (manfaat dan konservasi): Silvofishery, minawana. Banyak berkembang di Jawa dan Sulawesi Selatan

Ekosistem Padang Lamun

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang. Adapun ancaman terhadap padang lamun, diantaranya sebagai berikut :

– Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir       laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)

– Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin

– Pencemaran minyak dan industri

Upaya pelestarian

–          Mencegah terjadinya pengrusakan akibat pengerukan dan pengurugan kawasan lamun

–          Mencegah terjadinya pengrusakan akibat kegiatan konstruksi di wilayah pesisir

–          Mencegah terjadinya pembuangan limbah dari kegiatan industri, buangan termal serta limbah pemukiman

–          Mencegah terjadinya pencemaran minyak di kawasan lamun

Ekosistem Terumbu Karang

Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik. Tekanan terhadap keberadaan terumbu karang sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia.  Karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti :

  • Air dengan transparansi tinggi (jernih)
  • Suhu air yang berkisar antara 23 – 32 derajat celcius
  • Kedalaman perairan kurang dari 40 m
  • Salinitas yang berkisar antara 32 – 36 per mil
  • pH 7,5 – 8,5

Kerusakan terumbu karang banyak ditentukan oleh aktivitas di daratan. Adapun manfaat terumbu karang sebagai berikut :

  • Berperan penting bagi pertumbuhan sumberdaya perikanan (sebagai feeding ground, fishing ground, spawning ground and nursery ground)
  • Mencegah terjadinya pengikisan pantai
  • Sebagai daya tarik wisata bahari
  • Secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengendap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut

Ancaman terhadap terumbu karang

  • Pencemaran minyak dan industri,
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang
  • Peningkatan suhu permukaan laut
  • Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan
  • Perusakan akibat jangkar kapal

Upaya pelestarian terhadap kelangsungan hidup terumbu karang

  • Mengendalikan/ meminimalkan penambangan karang untuk lahan bangunan
  • Mencegah kegiatan pengerukan atau kegiatan lainnya yang menyebabkan terjadinya endapan

Advertisements